Ini Kata Sri Sultan HB X Soal Proses Hukum Tragedi Susur Sungai Sempor

Home / Berita / Ini Kata Sri Sultan HB X Soal Proses Hukum Tragedi Susur Sungai Sempor
Ini Kata Sri Sultan HB X Soal Proses Hukum Tragedi Susur Sungai Sempor Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X ketik memberikan keterangan terkait proses hukum tragedi susur sungai Sempor. (FOTO: Istimewa)

TIMESMOJOKERTO, YOGYAKARTA – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X (Sri Sultan HB X) menyebut pembina pramuka berinisial IYA harus bertanggung jawab atas peristiwa nahas susur Sungai Sempor pada Jumat 21 Februari 2020 lalu.

Pemerintah daerah memastikan tidak akan memberi bantuan hukum kepada yang bersangkutan.

“Dia harus tanggung jawab, harus tanggung jawab,” kata Sultan saat di Yogyakarta pada Senin 24 Februari 2020.

Raja Keraton Yogyakarta itu mengatakan pihaknya tidak akan memberikan bantuan terhadap IYA. Meski yang bersangkutan statusnya merupakan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS). “Ndak, kalau itu tidak. Tidak ada aturan yang mengatur itu,” ujarnya.

Ia juga menyebut proses penyelidikan oleh pihak kepolisian masih terus berlangsung. Bisa jadi tersangka pun akan bertambah nantinya.

“Bisa bertambah. Kepala sekolah pun bisa kena, tidak tahu pidananya. Beliau (kepala sekolah) mengijinkan atau tidak, tidak ada alasan. Aktivitas dengan (siswa) sebanyak itu kepala sekolah tidak tahu, tidak ada alasan,” ucapnya.

Sultan juga mengatakan pembina pramuka tersebut mestinya sudah paham mengenai ancaman bahayanya melakukan susur sungai saat musim hujan.

“Mestinya sudah paham. Ini kan masih anak-anak SMP, kenapa musim hujan menyusur sungai. Apa alasannya. Kan sudah diingatkan masyarakat juga. Berarti apa tidak menjaga keselamatan,” katanya.

Kepala Bidang Humas Polda DIY, Kombes Pol Yulianto mengatakan dalam kasus ini tersangka masih IYA, yang merupakan pembina pramuka dan juga guru di SMP N 1 Turi. Ia mengatakan IYA perannya paling dominan dibanding 6 pembina pramuka lainnya.

“Dia yang menentukan tempat susur sungai, dia yang menginisiasi itu. Peran di dalam pembina itu dia yang dominan,” katanya.

Yuli mengatakan IYA pada saat kegiatan pun hanya menghantarkan para siswa sampai ke sungai. Setelah itu ditinggalkan karena ada suatu urusan. “Dia alasannya ada urusan. Pada saat anak-anak hanyut dia juga kembali lagi ke lokasi dan sempat bantu menolong,” katanya.

Yuli menambahkan pemeriksaan saksi-saksi saat ini masih terus berlanjut. Setidaknya sudah ada 19 orang saksi yang dimintai keterangan. Penambahan tersangka kemungkinan masih ada, tergantung dari bukti-bukti terbaru.

Termasuk kemungkinan apakah kepala sekolah bisa dijerat dengan pidana atau tidak di kasus Tragedi Susur Sungai Sempor ini. Yuli menyebut kemungkinan bisa terjadi. “Apakah seseorang itu berkaitan punya tanggung jawab pidana atau tidak itu berdasar hasil pemeriksaan saksi atau petunjuk yang baru. Jadi untuk urusan siapa yang bisa dipidana itu ranah penyidik. Kalau memang para pihak itu bisa dijerat tentu akan kami lakukan, kalau tidak ya tidak kami paksakan,” pungkasnya. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com