Lumbung Pangan Jatim Makin Diperluas, Tersisa 5 Daerah Belum Terlayani

Home / Berita / Lumbung Pangan Jatim Diperluas, Tersisa 5 Daerah Belum Terlayani
Lumbung Pangan Jatim Diperluas, Tersisa 5 Daerah Belum Terlayani Petugas ojek online mengirimkan pesanan belanja bebas ongkir dari Lumbung Pangan Jatim. (FOTO: Dok.Pemprov Jatim)

TIMESMOJOKERTO, SURABAYA – Pengelola Lumbung Pangan Jatim tidak mau menunggu lama dalam meningatkan layanan masyarakat. Sebelumnya, program Pemprov Jatim ini hanya mencakup 28 daerah. Namun mulai Kamis  (30/7/2020) kemarin, layanan tersebut diperluas hingga 33 daerah di Jawa Timur.

Perluasan wilayah merupakan bukti komitmen Lumbung Pangan Jatim meratakan layanan pada masyarakat. Awalnya, layanan ini hanya dinikmati masyarakat Surabaya. Lalu meluas ke Sidoarjo dan Gresik. Kemudian berlanjut wilayah Pasuruan, Bangkalan, Madiun, Bojonegoro dan sekitarnya.

Sebelumnya, total daerah yang dijangkau mencapai  28. Masih ada 10 daerah yang belum dijamah. Mulai hari ini, ada lima tambahan daerah yang dilayani. Dengan begitu, tinggal 5 daerah yang belum terlayani.

Lima daerah baru itu meliputi Banyuwangi, Situbondo, Sumenep, Sampang, dan Pamekasan.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa berharap lima daerah baru itu memanfaatkan program tersebut. "Belanja bahan pokok dengan harga terjangkau dan bebas ongkos kirim,’’ katanya.

Ia mengatakan perluasan daerah sengaja dilakukan utama di daerah yang pasarnya menjadi sampling survei BPS. Di daerah tersebut diupayakan ada penyediaan sembako harus lebih murah di Lumbung Pangan untuk bisa menjaga stabilitas harga di lokasi tersebut.

Ditargetkan Gubernur Khofifah pada tanggal 6 Agustus 2020 mendatang, seluruh 38 kabupaten kota di Jatim sudah terlayani semua layanan Lumbung Pangan Jatim.

Berdasarkan data, antusiasme warga Jatim mengakses layanan sembako murah free ongkir ini cukup besar. Bahkan yang beli online jauh lebih banyak dibandingkan yang belanja offline.

Kemarin transaksi online free ongkir mencapai 361 transaksi. Rata-rata transaksi belanja online selalu berkisar antara 300 hingga 360 pembelian dalam sehari. Sedangkan yang offline antara 150 hingga 200 pembelian dalam sehari.

Omset dalam kurun waktu 21 Juli 2020 hingga 29 Juli 2020 Lumbung Pangan Jatim mencapai Rp 632 juta. Komoditas yang paling diminati adalah gula dengan rata-rata gula yang terjual 2 ton dalam sehari. Kemudian juga beras dengan rata-rata terjual 1 ton dalam sehari.

Disusul kemudian komoditas minyak goreng, mie instan, telur, bawang putih, ayam karkas, sirup, ikan dan juga frozen food.

Lebih lanjut Gubernur Khofifah menegaskan program ini juga selaras dengan upaya pencegahan penyebaran virus Covid-19. Masyarakat tidak perlu datang ke lokasi. Cukup memesan melalui online. Barang yang dipesan akan dikirim hari berikutnya.  Proses pengiriman tanpa biaya sama sekali.

Khofifah mengatakan pembelian secara online menghindarkan pertemuan penjual dan pembeli. Secara tidak langsung, keduanya mewujudkan social dan physical distancing. "Lebih aman, juga murah," imbuh dia.

Dia juga mendorong pengelola Lumbung Pangan Jawa Timur terus menambah luasan layanan. Masih ada lima daerah yang belum. Secepatnya, lima daerah itu mendapat layanan yang sama dengan daerah lainnya. 

Program Lumbung Pangan Jawa Timur dimulai sejak 21 April 2020 lalu. Menurut rencana, program yang menyabet juara lomba inovasi Kementerian Dalam Negeri itu berakhir 21 Juli lalu. Namun, pemerintah provinsi memperpanjang masa program higga akhir Desember.

Pertimbangannya, Lumbung Pangan dianggap mampu menjaga stabilitas harga bahan pokok di Jawa Timur. Utamanya, di masa pandemi, program tersebut sangat dibutuhkan. "Kami siap melaksanakan apa yang ditetapkan pemerintah,’’ kata pengelola Lumbung Pangan Jawa Timur Erlangga Satriagung.

Dia juga mengungkapkan, Lumbung Pangan Jatim memastikan stok bahan pangan pokok di Jawa Timur ada. Program ini juga menyerap produk petani di Jawa Timur. "Kami memberdayakan petani dan supplier dari Jawa Timur,’’ ucap dia.

Sejak dioperasionalkan 21 April 2020 hingga 29 Juli 2020 lalu, Lumbung Pangan Jatim yang digagas Pemprov Jatim ini telah menyerap 265,53 ton beras dari petani dengan nilai Rp 2,77 miliar. Penyediaan beras di Lumbung Pangan Jatim dari petani terus dilakukan hingga sekarang. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com