Meramu Falsafah Ideologis dan Kebersatuan Bangsa

Home / Kopi TIMES / Meramu Falsafah Ideologis dan Kebersatuan Bangsa
Meramu Falsafah Ideologis dan Kebersatuan Bangsa Ainul Mizan

TIMESMOJOKERTO, MALANGISTILAH ideologi memang akan merujuk kepada yang bersifat eksklusif. Berdiri tegar dengan konsepsinya sendiri guna menawarkan solusi bagi setiap persoalan kemanusiaan. 

Eksklusifitas ideologi bermula dari sudut pandangnya terhadap kehidupan. Sudut pandang ini diyakini dan menjadi asas bangunan ideologi. Bangunan ideologi itu merupakan sistem kehidupan yang khas, bersifat aplikatif. 

Adapun dari sudut pandang yang menjadi asas ideologi, terbagi kedalam 2 kategori. Pertama, sudut pandang terhadap kehidupan yang bercorak sekuleristik. Manusia sebagai makhluk yang diberikan akal budi dipandang berhak mengatur kehidupannya sendiri.

Nilai-nilai teologis menjadi wilayah privat. Tidak boleh ada satupun manusia yang berhak intervensi di dalamnya. Bahkan ada yang secara radikal tidak mengakui adanya Tuhan yang berhak dalam keberagamaan.

Betul-betul bila ingin manusia itu bebas mengatur dirinya meniscayakan agar manusia itu mengatakan bahwa Tuhan telah mati. Ya, inilah asas atheisme, yang merupakan sekulerisme radikal. 

Kedua, sudut pandang yang manusia itu dengan akal budinya mengatur alam semesta sesuai arahan Sang pemiliknya. Asas Islam menempatkan manusia sebagai pemakmur bumi. Ia akan mempertanggungjawabkan akan lurus dan bengkoknya dari aturan Alloh dalam mengurus bumi.

Masing - masing asas tersebut melahirkan seperangkat sistem kehidupan, baik di bidang politik pemerintahan, ekonomi, sosial budaya, peradilan, pendidikan dan pertahanan keamanan. Manusia sebagai makhluq yang lemah akan menelorkan sistem kehidupan yang justru membahayakan keberadaan manusia.

 Ideologi Kapitalisme yang berasas sekulerisme akan mengatur kehidupan yang nihil dari nilai - nilai agama. Modal menjadi hal yang dominan.

Walhasil dalam sistem ekonominya kental bercorak liberalisme. Yang kuat akan bisa mengakses sumber daya alam dengan leluasa. Yang lemah menjadi tertindas. Dari sini bisa dimengerti jika metode penyebaran Kapitalisme adalah dengan penjajahan. Notabenenya penjajahan adalah wujud nyata liberalisme tersebut. 

Ideologi Sosialisme yang berasaskan sekulerisme radikal yakni atheisme. Fenomena sosial yang sama rata menjadi antitesa atas pandangan individualis Kapitalisme. Begitu pula dalam ekonominya telah mengukuhkan kepemilikan komoditas ekonomi sebagai milik negara. 

Ideologi Islam telah mengukuhkankan manusia sebagai pengatur bumi dengan aturan Alloh, Sang pemilik alam. Dalam pandangan ekonominya, kepemilikan komoditas menjadi izin Sang pemilik untuk menempatkan individu, masyarakat dan negaranya saling menguatkan layaknya bangunan kokoh. Intinya, mendapatkan keridhoan Allah menjadi keintegralan konsepsi kehidupan islami. 

Baik Kapitalisme, Komunisme maupun Islam, akan sedikit banyak mewarnai dunia, termasuk Indonesia. Sebagai sebuah bangsa, rakyat Indonesia memiliki filosofi nilai luhur bangsanya. Pancasila menempati posisi penting untuk mengukuhkan nilai luhur bangsa. Walhasil Pancasila layaknya sebagai set of philoshophy, seperangkat nilai - nilai luhur bangsa.

Di sisi lain, Pancasila disebut sebagai ideologi terbuka. Artinya set of philoshophy bangsa membutuhkan seperangkat sistem kehidupan yang lebih aplikatif. Tentunya mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara tidaklah cukup dengan hanya mengandalkan nilai luhur bangsa.

Bangsa ini sudah pernah mengadopsi aturan aplikatif kenegaraan yang bercorak Kapitalisme maupun Komunisme. Demokrasi terpimpin dengan pola Nasakom, dan demokrasi liberal yang berimbas pada liberalisasi pada sektor yang lebih luas, menjadi bukti yang gamblang dalam hal ini. Hasilnya perilaku permisif para politisi, sinkretisme agama, budaya hedonis dan merebaknya disintegrasi bangsa. Keterpurukan bangsa semakin drastis.

Apakah semua persoalan akan menjadi PR bagi ideologi Islam? Kalau saja tidak mendahulukan sikap dan cara berpikir apriori, tentunya akan dihasilkan ramuan yang pas antara Islam dan nilai luhur bangsa. Islam akan membimbing nilai luhur bangsa menuju perbaikan di segala bidang kehidupan. Eksistensi bangsa Indonesia akan tetap terjaga. 

Akan tetapi sayangnya, sikap apriori terhadap Ideologi Islam telah menghalangi upaya perbaikan dan persatuan bangsa.

Yang ada, semakin deras keterpurukan dan keterbelakangan bangsa yang menggerus nilai-nilai luhur bangsa. Padahal perbaikan keadaan bangsa dimiliki oleh Islam dengan seperangkat sistem kehidupannya yang paripurna. Lantas kalau bukan Islam, dengan apa kita berharap ada perbaikan kondisi bangsa dan turunnya berkah dari langit dan bumi??

* Penulis Ainul Mizan

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com