Selamat Tinggal Sekolah Favorit

Home / Kopi TIMES / Selamat Tinggal Sekolah Favorit
Selamat Tinggal Sekolah Favorit Ilham Wahyu Hidayat, Guru SMP Negeri 11 Malang.

TIMESMOJOKERTO, MALANG – Sekolah favorit itu predikat. Predikat ini diberikan masyarakat pada suatu sekolah setelah membandingkan dengan sekolah lainnya. Dalam membandingkan tersebut biasanya didasarkan pada beberapa pertimbangan. 

Pertama, mungkin karena biaya pendidikan di sekolah itu mahal. Kedua, mungkin karena lulusan sekolah itu banyak yang berhasil di dunia kerja. Ketiga, mungkin karena untuk masuk ke sekolah itu calon siswa harus punya nilai di atas rata-rata. Keempat mungkin karena fasilitas belajar di sekolah tersebut lengkap.

Empat alasan di atas bisa dikembangkan dan diperdebatkan. Satu hal yang pasti telah banyak jalan ditempuh orang tua agar anaknya diterima di sekolah idaman. Jalannya kadang dengan menabung, mencari pinjaman, menjual aset sampai memberikan tambahan pendidikan seperti bimbingan belajar.

Semua usaha orang tua di atas memang positif. Semua wujud nyata dalam pendidikan masyarakat telah berpartisipsi aktif. Hanya saja sekarang semuanya tidak perlu lagi dilakukan sebab sekarang sudah ada jalur zonasi.

Jalur zonasi adalah salah satu jalur dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang ditetapkan pemerintah. Jalur ini disahkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 44 Tahun 2019. Menurut Pasal 14 Ayat 1 Permendikbud tersebut, jalur ini diperuntukkan bagi peserta didik yang berdomisili di dalam wilayah zonasi yang ditetapkan Pemerintah Daerah. 

Domisili calon peserta didik didasarkan alamat kartu keluarga atau KK yang diterbitkan paling singkat satu tahun sejak tanggal pendaftaran PPDB.

Bagi yang tidak memiliki KK dapat menggunakan surat keterangan domisili dari RT atau RW yang dilegalisir lurah, kepala desa atau pejabat setempat lain yang berwenang.

Menurut Pasal 14 Ayat 5 dalam Permendikbud di atas sekolah harus memprioritaskan peserta didik yang memiliki kartu keluarga atau surat keterangan domisili dalam satu wilayah kabupaten atau kota yang sama dengan sekolah asal.

Selain itu yang paling menggembirakan PPDB ini gratis. Buktinya dalam Pasal 21 Ayat 3 Permendikbud Nomor 44 Tahun 2019 dinyatakan sekolah yang diselenggarakan Pemerintah Daerah dalam menyelenggarakan PPDB tidak boleh melakukan dua hal. 

Pertama, melakukan pungutan dan atau sumbangan yang terkait dengan pelaksanaan PPDB maupun perpindahan peserta didik. Kedua, melakukan pungutan untuk membeli seragam atau buku tertentu yang dikaitkan dengan PPDB.

Dari sedikit penjelasan di atas jelas tujuan jalur zonasi untuk pemerataan pendidikan. Melalui jalur zonasi, calon peserta didik dapat bersekolah dimana saja termasuk sekolah favorit asal alamat dalam KK dalam radius sekolah.

Untuk mendaftar di suatu sekolah termasuk di sekolah favorit terutama yang diselenggarakan pemerintah daerah (sekolah negeri), calon peserta didik tidak perlu nilai Ujian Nasional dan nilai rapot setinggi langit. Modal calon peserta didik hanya KK. Meskipun nilai calon peserta didik rendah, mereka punya kesempatan yang sama dengan yang nilainya tinggi untuk diterima di sekolah favorit.

Sayangnya jalur zonasi ini hanya berlaku untuk SD, SMP, dan SMA.  Untuk masuk sekolah seperti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tidak ada jalur zonasi. Menurut Pasal 26 Ayat 2 dalam Permendikbud Nomor 44 Tahun 2019, seleksi calon peserta didik baru di SMK mempertimbangkan nilai UN.

Selain itu proses seleksi di SMK juga berdasarkan dua hal. Pertama, hasil tes bakat dan minat sesuai dengan bidang keahlian yang dipilihnya dengan menggunakan kriteria yang ditetapkan sekolah. Kedua, hasil perlombaan dan atau penghargaan di bidang akademik maupun non akademik sesuai dengan bakat minat pada tingkat internasional, tingkat nasional, tingkat provinsi, dan atau tingkat kabupaten atau kota.

Entah apa alasan pemerintah mengadakan pengecualian pada SMK dalam jalur zonasi. Satu hal yang pasti jalur zonasi sudah pasti menggusur keberadaan sekolah favorit.

Semua sekolah yang diadakan pemerintah daerah termasuk yang berpredikat favorit harus menerima ketentuan jalur zonasi jiwa besar. Dalam jalur zonasi setiap calon peserta didik memiliki hak sama bersekolah dimana saja selama alamat dalam KK dalam radius sekolah meskipun sekolah favorit.

Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Demikian yang ditegaskan Pasal 31 Ayat 1 UUD 1945. Semua ini harus disadari dan dilaksanakan setiap sekolah. Mereka harus mau dan terbuka menerima setiap calon peserta didik meskipun mereka datang dengan bermodal KK.
Lagi pula secara yuridis sekolah favorit sebenarnya tidak pernah ada. Buktinya tidak ada satu undang-undang pun, mulai UUD 1945, Peraturan Presiden sampai Peraturan Menteri Pendidikan yang mengukuhkan keberadaan sekolah favorit.

Selamat tinggal sekolah favorit. Selamat datang jalur zonasi. Jika ada sumur di ladang bolehlah kita menumpang mandi. Jika ada kebijakan baru dari pemerintah membuatmu kembali datang, masyarakat pasti bertemu denganmu lagi. Tapi yakinlah semua itu hanya mimpi sebab doa masyarakat pasti berharap itu tidak terjadi. (*)


*)Penulis: Ilham Wahyu Hidayat, Guru di SMP Negeri 11 Malang

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com