Tik Tok Tik Tok Tik Tok

Home / Kopi TIMES / Tik Tok Tik Tok Tik Tok
Tik Tok Tik Tok Tik Tok Cak Edol, Wirausahawan dan pegiat medsos di Probolinggo, Jawa Timur.

TIMESMOJOKERTO, PROBOLINGGO – Pagi ini kebetulan dari sebelah rumah kembali terdengar teriakan-teriakan marah. Meski campuraduk bersama deru mesin mobil isuzu panther lansiran 2011, namun suara pertengkaran ayah, ibu, dan anak, itu masih tertangkap jelas. "Mama harus bilang berapa kali. Waktu makan jangan joget-joget !. Ga usah nari-nari !. Taruh hp kamu !" intonasi suara Bu Subangun,  tinggi. Jelas sedang menghardik.

"Angga..! Jangan sampai papa yang ambil tindakan loh ya. Papa lihat lagi kamu joget joget sambil makan, papa ambil HP kamu," sambar Pak Teguh, salah satu pegawai instansi pemerintah daerah, sambil tetap memanaskan mesin mobil. 

"Ini salah papa juga...! apa sih manfaatnya nunjukin video joget joget tik tok tik tok Bu Anggi, dan stafnya gitu ke anak-anak?. Share di FB papa kalau itu perintah Bu Anggi, share aja. Ga usah dibangga-banggain ke anak-anak," ganti Bu Subangun, menghardik Pak Teguh.

Sejenak kemudian hanya terdengar deru mesin. Selisih beberapa detik  "jdok. prak. klotak klotak klotak dueeeng. Gubrak" terdengar benda dilempar cukup keras dan daun pintu dibanting."Mamaaaaa," suara Angga, menjerit sebentar lalu lenyap bebarengan dengan berhentinya deru mesin mobil. 

Pertengkaran tak penting di minggu cerah setelah semalam diguyur hujan. Dan mungkin pertengkaran lanjutan tak lagi terjadi karena ponsel pintar milik Angga, sudah minta "adik" 

Sisi lain. Penulis ingin marah tapi tak tersalurkan. Burung Muray Batu, yang bersiul kencang, dan baru sebulan penulis pelihara, tiba-tiba jadi goblok. Kaget mungkin. Atau ikut meratapi nasib Angga, yang jadi korban apalikasi tik tok. Sampai dipancing pakai suara siulan muray di video youtube-pun tetap bungkam. Satu lagi korban aplikasi "konyol". 

Tik tok ciptaan Zhang Yiming, pria asal China, ini memang boming di zaman generasi "micin". Meski ada juga manfaat positif. Misal untuk mengelabuhi penontonya jika yang berperan di video tik tok sedang baik-baik saja. Tidak stres karena sedang dihukum kepala sekolah.  Atau pemeran video tik tok ingin dianggap bersahaja. Berbalik 180 derajat dari sifat aslinya yang bengis dan culas. Dan atau lain sebagainya. 

Yiming, yang merupakan lulusan software engineer dari Universitas Nankai itu, membuat aplikasi tik tok melalui perusahaan teknologi ByteDance, pada Maret 2012. Sejatinya tik tok dibuat untuk meraup pundi-pundi segar. Semacam Youtube. Selain juga mempersembahkan hiburan alternatif bagi mania videografer. Sebagian besar pengguna Tik Tok diketahui merupakan anak muda dan bahkan yang masih belia. Grand desainnya adalah merajai bisnis App Store. 

Dan seperti dilansir berbagai media internasional. Pemuda Yiming, pada 2018 akhirnya sukses memposisikan diri sebagai orang terkaya di urutan 545 dunia. Sepanjang tahun 2018, aplikasi tersebut merajai App Store dengan 500 juta kali unduhan lebih. Forbes, menulis, Yiming, punya kekayaan hingga 4 miliar USD atau sekitar 57,4 triliun Rupiah. Bahkan pada tahun 2013, nama Yiming, di deretan orang terkaya China di bawah usia 30 tahun.

Untuk sekedar seru-seruan bagi kalangan remaja dan anak +62, kehadiran aplikasi ini mungkin masih bisa dimaklumi. Sekaligus juga sebagai sikap permisif terhadap kreatifitas pegiat medsos. Yang berbahaya dan menjadi mudhorot, jika aplikasi ini seolah menjadi wajib tonton, dan wajib tayang tanpa sensor sekaligus kode etik bagi produsen konten. 

Sudah menjadi rahasia umum, video anak-anak berisi edukasi, seperti hafalan surat-surat pendek mulai sepi tayang. Tutorial memasang hijab minim pemirsa. Sampai video qorik asal Indonesia, juara MTQ internaisonal di Maroko-pun seolah lewat begitu saja. Dan akhirnya Tik tok sungguh menghapus "jalan lurus".

Tidak ada salah dan dosa menerima perkembangan medsos maupun dunia IT. Karena memang plataform ini masuk urat nadi budaya bangsa dan adat kita tanpa permisi. Namun tetap, butuh kebijakan dan kecerdasan mental spritual untuk bisa memanfaatkannya secara pantas. Jangan kemudian menjadi kalut belakangan setelah tik tok "meneror ahlaq" generasi milenial. Menggerus kewibaan dan kehormatan para pemangku syariat, pemangku dusun, dan bahkan pemangku kebijakan, karena tampil  absurd melalui tik tok tik tok tik tok tik tok... (Salam).

***

*)Penulis: Cak Edol, Wirausahawan dan pegiat medsos di Probolinggo, Jawa Timur.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com