Belajar Banyak dari Virus Corona

Home / Kopi TIMES / Belajar Banyak dari Virus Corona
Belajar Banyak dari Virus Corona Oleh: Eriga Agustiningsasi,S.KM

TIMESMOJOKERTO, PASURUAN – Media kini sedang gencar memberitakan makhluk kecil tak kasat mata. Ya. COVID-19, Virus Corona yang menggemparkan dunia. Manusia cukup kelabakan dibuatnya. Berbagai pencegahan dilakukan demi memutus penularan virus yang menyerang pernapasan manusia ini.

Media, baik cetak maupun elektronik, baik milik pemerintah, swasta maupun sosial media gencar mengedukasi masyarakat terkait bahaya dan cara memutus rantai penularan virus ini. 

Layaknya suatu peristiwa pada umumnya, pandemi virus Corona ini tentu memuat pelajaran berharga bagi manusia di muka bumi ini. Beberapa hal yang  bisa diambil sebagai pelajaran akan terjadinya peristiwa ini:

Pertama, dari virus Corona kita belajar untuk senantiasa berperilaku hidup bersih dan sehat tanpa menunggu penyakit datang. Sayangnya kebanyakan dari kita terlambat dalam aspek ini. Hanya mengandalkan aspek kuratif (pengobatan) dalam kehudupan sehari-hari. Padahal sudah jelas bahwa, pepatah mengatakan ”Mencegah lebih baik daripada mengobati”.

Kini hampir semua orang melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat salah satunya dengan mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir setelah beraktivitas maupun setelah datang dari bepergian. Makanan yang dipilih pun mulai berubah. Semua beralih kepada makanan yang sehat, bahan bahan alami mulai diburu seperti jahe, kunyit, madu dan lainl-lain.

Kedua, dari virus Corona kita belajar betapa berharganya waktu kita selama ini bercengkrama dengan keluarga, teman kantor, teman kerja, teman-teman di pengajian dan tetangga sekitar. Rindu dengan aktivitas yang semakin mengeratkan aspek sosial di tengah-tengah masyarakat. Adanya kasus ini membuat kita saling rindu.

Ketiga, dari Corona kita belajar bahwa nikmatnya ibadah, kajian, sholat berjamaah sangat terasa. Kini timbul rasa rindu terdalam untuk melaksanakan ibadah. Semua aktivitas akhirnya dilakukan dari rumah, baik bekerja, sekolah, ibadah hingga interaksi online menjadi pilihan di tengah pandemi Corona ini.

Keempat, dari virus Corona kita belajar bahwa masyarakat negeri ini masih banyak yang memiliki rasa peduli yang tinggi. Terbukti tidak sedikit masyarakat yang berinisiatif untuk membantu baik secara finansial maupun dalam bentuk sumbangan berupa APD bagi tenaga medis. Masyarakat yang selama ini sibuk dengan dunia mereka masing-masing kini saling bergotong royong memberi simpati kepada korban baik dari kalangan masyarakat maupun tenaga medis. Tak peduli perbedaan suku, ras, agama hingga tingkat ekonomi mereka.

Kelima, dari virus Corona kita belajar menunda-nunda serta meremehkan hal yang belum kita ketahui jelas dampaknya maka akan menimbulkan akibat yang fatal. Ingatkah kita ketika awal muncunya virus Corona di Cina, bagaimana respon Indonesia?

Bahkan menjadi bahan tertawaan dan yang menyampaikan bukan hanya masyarakat awam, melainkan orang yang berpendidikan. Sudah saatnya kita pelajari dulu, hati-hati dan tetap waspada atas segala sesuatu.

Keenam, dari virus Corona kita belajar bahwa kepentingan rakyat adalah hal utama dibanding dengan kerugian materi. Namun sayangnya di negeri ini masih ada beberapa oknum yang memanfaatkan situasi sulit hari ini untuk meraup keuntungan.

Mulai dari penimbunan APD seperti masker agar mendapat untung tinggi, ekspor masker meski di dalam negeri masih sangat membutuhkan hingga masih ada tenaga kerja asing yang masuk di negeri ini dengan dalih agar ekonomi tidak tumbang.

Kemudian terkait dengan kebijakan lockdown (pernah dilakukan di masa Rosulullah) yang telah diterapkan oleh beberapa negara terbukti cukup ampuh untuk memutus rantai penularan Virus Corona belum diambil sebagai solusi dengan pertimbangan ekonomi. 

Ketujuh, dari Corona kita belajar bahwa solusi yang bersumber dari pemlik kehidupan inilah yang mampu menghentikanya. Dialah Allah SWT. Solusi yang telah Allah contohkan melalui perilaku Rosulullah.

Rasulullah bersabda, “Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah janganlah kalian memasukinya. Jika wabah terjadi di tempat kalian berada jangan kalian tinggalkan tempat itu” (HR.Al Bukhari).

Ini pun juga dilakukan oleh Umar bin Khatthab saat terjadi wabah Tha’un. Hingga Allah memberikan pertolongannya saat syariatNya ditegakkan dan dipatuhi oleh penguasa maupun penduduknya. Bukan dengan asas untung rugi secara materi melainkan karena itu adalah syariat yang memang harus dilaksanakan meskipun menelan banyak biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup rakyatnya di masa karantina.

Terakhir, dari Corona kita belajar bahwa manusia lemah dan terbatas. Tak layak menyombangkan diri dihadapan Allah dengan mengabaikan bahkan mencampakkan aturanNya. Berhadapan makhluk Allah yang sangat kecil tak kasat mata saja manusia kelabakan apalagi menghadapi pencipta makhluk tersebut?

Mengingat jumlah orang yang terkena Corona telah mencapai angka 2000an lebi, tunggu apalagi? Belum cukupkah kita belajar dari kesalahan kesalahan yang telah lalu? Belum cukupkah kita belajar menunda nunda keputusan akan berakibat fatal?

Belajarlah dari virus Corona...

***

*)Oleh: Eriga Agustiningsasi,S.KM.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com