Takwil Nabi Yusuf, Covid-19 dan Nasib Rakyat

Home / Kopi TIMES / Takwil Nabi Yusuf, Covid-19 dan Nasib Rakyat
Takwil Nabi Yusuf, Covid-19 dan Nasib Rakyat Budy Sugandi.

TIMESMOJOKERTO, JAKARTA – Sejak kecil kita sering disuguhi cerita-cerita hikmah. Salah satunya kisah laki-laki pilihan Allah yang sangat tampan yaitu Nabi Yusuf AS. Saking terpesonanya, perempuan yang melihatnya tanpa terasa bisa mengiris jarinya sendiri.

Kisah ini bisa dibaca dalam Al-Quran surat Yusuf: 43-55 atau dalam Al-Kitab, Kitab Kejadian, pasal 40: 1-36. Kisahnya tak jauh berbeda. Cuma redaksi dan detailnya saja yang berbeda.

Secara singkat begini kisahnya yang saya ambil dari Islami[dot]co:

Seorang raja Mesir yang berkuasa pada masa itu bermimpi tentang 7 ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus, tujuh tangkai gandum yang hijau dan tujuh tangkai lainnya yang kering.

Lalu ia meminta para peramal kerajaan untuk menafsirkan/takwil mimpinya itu. Alih-alih memberikan jawaban, mereka malah menganggap bahwa mimpi itu kosong, tak ada artinya.

Seorang pelayan raja yang menguping pembicaraan itu tiba-tiba teringat seseorang yang dulu sama-sama dipenjara yang mampu menafsir mimpinya dan, berkat tafsirnya, menjadikan dirinya dipercaya sebagai pelayan raja. Siapakah sang penafsir itu? Ia adalah Nabi Yusuf.

Maka disampaikanlah mimpi sang raja itu kepada Yusuf. Berkatalah Yusuf, “Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang dituai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (masa krisis), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan. Setelah itu akan datang tahun, di mana manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur).”

Rupanya ilmu tafsir Nabi Yusuf itu cukup mumpuni. Tafsir mimpinya yang rasional itu terbukti menjadi solusi jitu saat menghadapi krisis ekonomi (musim paceklik akibat kemarau panjang) di Mesir. “Cadangan devisa” yang didapat dari menimbun hasil panen 7 tahun sebelumnya dikonsumsi selama musim paceklik hingga musim hujan tiba.

Keahlian menafsir mimpi itulah yang kemudian membuat ia ditawari posisi penting oleh raja. Lalu Nabi Yusuf berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan”.

Lalai
Saat pandemi jahanam global ini, sebenarnya kita tidak perlu menanti mimpi sang raja, namun membaca realitas. Bahkan tidak perlu mencari ahli takwil mimpi sesakti Nabi Yusuf AS, tapi kejadian itu terjadi persis di depan mata dan di detak jam yang sama pula. Semua kita tahu bahwa Kota Wuhan, China sebagai episentrum virus corona termasuk satu benua dengan Indonesia. Perbedaan jamnya hanya terpaut 1 jam dg WIB atau sama persis dg WITA. Bahkan ketika negara-negara tetangga kita sudah terjangkit Covid-19 namun di saat itu, bukannya pemerintah sibuk dengan langkah antisipatif, malah sibuk dengan ngasi diskon pesawat, mengangarkan 72 M untuk membayar influencer demi tingkatkan pariwisata, sibuk Omnibus Law, sibuk mencari sebab kenapa virus itu tidak masuk Indonesia dan malah ekspor masker yang melonjak hingga 3 ribu persen sepanjang Februari 2020.

Dampaknya rumah sakit dan alat medis tidak siap, infrastuktur kesehatan amburadul, sulit mendapatkan masker hingga kalau kita lihat data negara kita Indonesia memuncaki klasemen untuk rasio kematian tertingi di ASEAN akibat Covid-19. Per 6 April 2020 total warga Indonesia yang meninggal mencapai 209 orang, sementara yang meningal negara lain Filipina 163 orang, Malaysia 62 orang, Thailand 26 orang, Singapura 6 orang dan Vietnam 0.

Semakin parah dengan komunikasi yang tidak singkron antar-Menteri. Ujung-ujungnya keselamatan rakyat menjadi taruhan, padahal kata Marcus Tullius Cicero “salus populi suprema lex esto”, “keselamatan rakyat menjadi hukum tertinggi.”

Pertanyaannya, kenapa kita sebagai negara mayoritas mulim ini kok tidak mau belajar dari kisah Nabi Yusuf?
 
Nasib Rakyat
Rakyat sebenarnya tidak masalah dengan kebijakan pemerintah. Mau pake jurus social distancing atau lockdown atau karantina wilayah termasuk mudik atau tidak mudik asalkan rakyat selamat. Selamat dalam arti, meskipun tak bisa menabung karena tidak ada pemasukan tapi sehat dan perut bisa makan.

Urusan perut itu kebutuhan pokok. Mari kita simulasikan, misal pemerintah memutuskan karantina selama 1 bulan. Ada keluarga yang punya tabungan untuk kebutuhan 6 bulan hingga 5 tahun, namun bagaimana dengan yang tidak punya tabungan. Mereka biasa bekerja hari ini untuk makan hari ini dan besok. Apalagi yang memiliki bayi dan butuh membeli susu. Kalau tidak keluar rumah tidak bekerja, tidak punya uang, tidak ada yang dimasak. Perut diisi apa? Padahal imunitas adalah senjata terampuh yang kita miliki saat ini.

Nah di sinilah peran Pemerintah, baik pusat maupun daerah. Pemerintah di Australia, menyediakan dana sebanyak hampir Rp 11 juta per dua minggu untuk warga berusia 22 sampai 66 yang kehilangan sumber pendapatan mereka akibat Covid-19.

Kita harus imbang juga dalam memberikan nilai pemerintah. Ada juga kebijakan yang perlu diacungi jempol. Seperti Presiden Jokowi melonggarkan cicilan kredit, Gubernur Jabar Ridwan Kamil berikan bantuan Rp 500 ribu per KK untuk 1 juta warga Jabar, mengubah Wisma Atlet jadi rumah sakit darurat Covid-19 hingga mengratiskan tarif listrik 450 VA 3 Bulan dan diskon 50% untuk 900 VA.

Pertanyaan apakah cukup? Berapa sebenarnya kebutuhan pokok yang harus dipenuhi? Alasan Australia memberikan 11 juta/2 minggu atau 22 juta/bulan itu ada hitungannya. Bagaimana dengan Indonesia? Jka diukur dari rasio GDP/jumlah populasi. Seharusnya diberikan minimal 1,5 juta/bulan untuk setiap orang yang pencahariannya terganggu oleh Covid-19.

Saya husnudzon, bahwa saat ini pemerintah bekerja keras dan tentu ingin menyelesaikan pandemi jahanam ini. Namun, tak ada salahnya jika rakyat sedikit mengingatkan.
 

*) Penulis Budy Sugandi, Pengamat Pendidikan dan Sosial

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com