Hormatku Kepada Mereka yang Produktif di Tengah Pandemi

Home / Kopi TIMES / Hormatku Kepada Mereka yang Produktif di Tengah Pandemi
Hormatku Kepada Mereka yang Produktif di Tengah Pandemi Muhammad Rafly Setiawan, Pengurus Cabang PMII Kota Palopo.

TIMESMOJOKERTO, PALOPO – Setelah melewati Idul Fitri dan wabah Covid-19 masih menggantung di langit Indonesia, banyak hal yang perlu menjadi perhatian bersama.

Di antaranya adalah, aktif menulis, menjalin komunikasi secara online, berpartisipasi dalam mengontrol segala kejanggalan dari multi regulatif dari pemerintah, mengimbau masyarakat agar tetap mendengar maklumat pemerintah dan anjuran protokoler kesehatan demi memutus laju pergerakan pandemi ini, tenaga medis yang bekerja maksimal untuk peran-peran kemanusiaan, dan lain sebagainya. Tentunya, tak jarang orang-orang dapat menunaikan perihal tersebut.

Namun demikian, fokus tulisan ini adalah para penulis yang begitu giat menulis dan memuat tulisannya di berbagai media cetak maupun media cyber. Seperti misalnya, Gus Ulil Abshar Abdalla yang istiqomah, sampai detik ini, tetap menulis dan memberikan pencerahan spiritual di setiap penyampaiannya. Prosesnya amat sulit, tetapi beliau mampu melakukan itu dengan totalitas dan inovatif.

Adapun Prof Quraish Shihab yang senantiasa memberikan wejangan-wejangan kemanusiaan dan keagamaan dalam tuturnya pada setiap kesempatan. Tak hayal kalau beliau sangat produktif juga menulis. Terbukti, beberapa bukunya amat disenangi oleh seluruh kalangan, karena penyampaiannya begitu lugas dan tersirat nilai kemanusiaan di dalamnya. Termasuk bukunya yang berjudul,  "Corona Ujian Tuhan: Sikap Muslim Menghadapinya" dan masih banyak lagi tulisan beliau di tahun ini.

Orang-orang seperti itu memang dapat membuat khalayak menjadi terinspirasi agar dapat berbuat lebih dari sebelumnya. Saya salah satu random sample yang menyerap beragam luasnya samudera keilmuannya. Meski hanya melalui media online untuk menyimak pencerahannya, dan membaca e-book dari buah pemikirannya. Betapapun kebesaran personalnya, namun mereka memegang teguh prinsip tawadhu dan selalu bersifat inklusif guna merawat pluralitas pemikiran.

Keranjingan membaca dan menulis saat ini, kian mengalami pergeseran. Jutaan orang mengalami kesialan kala hendak menulis, termasuk saya diantaranya yang seringkali menghakimi diri sendiri melihat produktifitas tulisan-tulisan para penulis amatir maupun yang sudah mahsyur, namun tetap menulis di tengah pandemi global. Ini mengharuskan buat seluruh kalangan bahwa, wabah Covid-19 bukan hambatan bagi kita untuk senantiasa menuangkan ide maupun gagasan dalam tulisan.

Memang dalam hati kerapkali iri terhadap mereka yang getol menulis, akan tetapi rasa iri hati itu harus segera disingkarkan, lantaran dapat mengakibatkan gangguan psikologi dan psikis bagi diri sendiri. Sisa kembali kepada pribadi masing-masing, bagaimana cara untuk memulai dan mengamati teknik dari para penulis expert yang makin produktif. Asalkan bukan hasilnya yang dilirik, melainkan proses yang mereka lalui guna mendapatkan spirit berlebih-kelimpahan.

Saya acapkali diberikan nasehat oleh teman-teman di organisasi dan sahabat di sekitar bahwa, tak ada sesuatu yang praktis dan terbentuk dengan sendiri. Semua melalui proses yang panjang, karena tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan seluruh manusia punya paket komplit dalam potensinya, yang terpenting adalah selalu mengoptimalkan setiap potensi yang dimiliki lewat proses. Tentu saja, hambatan dan rintangan pasti akan menghadang. Inilah pentingnya kita menghargai proses yang telah dijalani selama ini.

Sesuatu yang hanya menyita waktu secara cuma-cuma, harus secepatnya ditinggalkan. Misalnya, rebahan dirumah selalu berada di depan layar ponsek, yang sekedar mengutak-atik chattingan di media sosial. Setidaknya aktivitas tersebut dapat diselingi dengan membaca buku ataupun menulis. Ini untuk melatih kepiawaian dalam memaksimalkan jari jemari yang bukan hanya dipakai untuk membalas chat yang kurang berfaedah. Nampaknya rebahan kita akan produktif, kalau perilaku adiktif itu digantikan dengan aktivitas yang dapat meningkatkan setiap potensi yang dimiliki.

Saya tidak bermaksud untuk menggurui pembaca, tapi sekedar mengajak untuk keranjingan membaca dan menulis. Apalagi ditambah dengan paradigma 'new normal' yang mestinya selaras pada kreatifitas dan produktifitas dalam menghasilkan karya. Manakala kolektif berkarya menjadi gerakan sosial, boleh jadi kita dapat menikmati keunggulan Indonesia di tahun 2045. Suatu prediksi yang perlu dilakukan sedini mungkin supaya tidak sekedar halusinasi semata, termasuk peningkatan setiap kalangan untuk melahirkan sebuah karya.

Di tengah pandemi global ini yang belum kunjung pergi meninggalkan bumi, sepatutnya dimaksimalkan waktu yang dimiliki untuk aktif menulis. Walaupun dalam seharian ktia belum mampu menyelesaikan tulisan, setidak-tidaknya kita mencoba dengan menyusun tiap kata untuk menjadi kalimat yang dapat tertata rapi dalam setiap paragraf. Alhasil, semakin getol menulis, maka tidak akan terasa bahwa kita dapat menyelesaikan tulisan yang  berhari-hari dikerjakan.

Ruang lingkup bukan perhentian dalam menulis, melainkan bisa menjadikan diri sendiri agar produktif dan inovatif. Karena dengan semangat dan keyakinan yang kuat untuk berkarya, merupakan konstruksi awal agar tidak menyia-nyiakan kesempatan menulis disela-sela aktivitas rebahan dirumah.

Untuk itu, beberapa panutan kita telah meneladankan agar menjadi manusia yang bermanfaat. Jangan takut gagal, jika menemui kegagalan, maka itu merupakan langkah pertama dalam menuju langkah selanjutnya. Yakinlah bahwa tak ada tulisan yang inspiratif dan motivatif yang berakhir di 'keranjang sampah', melainkan akan termuat di berbagai kanal media yang memungkinkan segenap pembaca menyerap multi-maslahat di dalamnya.

Terakhir, saya memberi hormat kepada para penulis yang teramat produktif menulis. Semoga selalu sehat, dan merawat memori etis masyarakat berskala luas pada setiap tulisannya. Hormatku pada seluruh penulis yang istiqomah menebar cinta dan kasih sayang lewat karyanya. (*)

***

*) Oleh: Muhammad Rafly Setiawan, Pengurus Cabang PMII Kota Palopo.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com