Ketika Santri Mengantarkan Kiai Menuju Istana RI

Home / Kopi TIMES / Ketika Santri Mengantarkan Kiai Menuju Istana RI
Ketika Santri Mengantarkan Kiai Menuju Istana RI Abdul Adzim Irsad adalah pengajar Unisma Malang.

TIMESMOJOKERTO, MALANG – Tidak ada kebahagian seorang santri, kecuali telah melihat kesehatan dan kebahagiaan kiainya. Tidak ada kesetiaan seseorang yang lebih tinggi melebihi kesetiaan seorang santri kepada kiainya. Bahkan, di dalam kitab Taklim Mutallim di ajarkan juga bagaimana cara memuliakan keluarga gurunya.

Dalam kitab Taklim Mutallim diterangkan, orang yang ingin mendapatkan ilmu yang manfaat, harus mendapatkan irsadu ustadi (arahan atau bimbingan sang guru). Manfaat dan tidaknya ilmu itu tergantung bagaimana seorang santri memuliakan gurunya.

Imam Malik ra, berkata; "Sesungguhnya ilmu itu adalah agama, maka lihatlah dari mana agama kalian dapatkan". Dalam hal ini, ulama Nusantara benar-benar selektif di dalam mencari guru/ kyai. KH Muhammad Hasyim Asaary telah mengajarkan etika mencari ilmu dalam kitabnya.

Jadi salah menentukan Kiai, akan salah dalam beragama. Guru itu akan mempengaruhi pola pikir santri nya. Kalau gurunya radikal, secara otomatis watak radikalnya akan mengalir kepada santri-santri nya. Kalau gurunya suka ngafirkan sesama, maka muridnya juga demikian. Tidaklaha aneh, jika ada sebuah pepatah yang mengatakan "guru kencing berdiri, murid kencing berlari".

KH Muhammad Hasyim Asaary ketika balik ke Nusantara, tidak mendirikan negara islam. Beliau paham betul tentang Khilafah Islamiyah, beliau juga sangat fasih tentang Negara Islam. Namun, beliau lebih suka mendirikan negara kesatuan Republik Indonesia. 

Jangan ditanya berapa banyak hafalan hadis Rasulullah SAW. Juga jangan ditanya berapa lama ngaji kitab hadis. Beliau belajar Alquran dan tafsirnya begitu juga dengan hadis dan mustalahnya. Guru-guru beliau di Makkah adalah mufti-mufti yang kadar ilmunya tidak diragukan lagi.

Secara khusus, KH Hasyim menulis kitab seputar etika seorang santri kepada gurunya. Beliau juga memberikan contoh, bagaimana sikap beliau kepada guru-gurunya. Itulah yang kemudian menjadi rujukan, panduan santri-santri Nusantara di dalam menuntut ilmu agama.

Jadi, seorang santri Nusantara begitu takdim kepada guru-gurunya. Sebaliknya, tidak ada seorang Kyai Nusantara, kecuali ingin mengantarkan santri santri nya bermanfaat bagi masyarakat. Sang Kiai bukan saja mengajari ilmu agama, setiap malam munajat kepada Allah SWT agar santri-santri menjadi orang yang bermanfaat bagi umat.

Tidaklah heran, jika santri-santri Mbah Hasyim banyak yang menjadi pejuang, menjadi menteri, memiliki pondok pesantren, menjadi pedagang. Santri itu boleh menjadi apa saja, tetapi ahlak itu di atas segalanya.  Begitulah tradisi ahlak Kiai dan Santri. 

Kali ini, Santri Nusantara telah mengantarkan KH. Kiai Ma'ruf Amin menuju Istana RI. Kemenangan Jokowi yang berpasangan dengan KH Makruf Amin tidak lepas dari dukungan para Ulama Nusantara dan santri, khususnya di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.  Mereka mendukung KH Makruf Amin bukan karena apa-apa, tetapi nilai-nilai Aswaja Mbah Hasyim Asaary benar-benar melekat kepada KH Ma'ruf Amin.

Di Indonesia ini ada dua sosok Amin. Amin yang pertama lebih dari sekali mencalonkan Presiden RI, namun ngak pernah jadi. Ketika mendukung  Capres-pun juga selalu gagal. Dialah Amin Rais. Sehingga Gus Dur pernah berkelakar "sampai kapanpun Amin Rais tidak akan bisa menjadi presiden, karena nama -A".

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com